Pertanyaan itu jatuh begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa paksaan justru itulah yang membuatnya terasa berat. Morvena berdiri di hadapannya, kali ini lebih dekat. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan lurus yang tajam, seolah ia sedang menagih sebuah janji, bukan sekadar bertanya.Dirian membeku.Lorong itu kembali terasa terlalu sempit. Cahaya obor memantul di dinding batu, membuat bayangan mereka saling bertumpuk, menyatu lalu terpisah lagi. Untuk sesaat, Dirian tidak langsung menjawab. Ia menatap Morvena, lalu mengalihkan pandangan, seolah mencari celah di udara untuk bernapas.“Aku…” suaranya terhenti.Ia menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seperti seseorang yang sedang menahan runtuhnya sesuatu di dalam dirinya.
Last Updated : 2026-01-11 Read more