Di tengah hiruk-pikuk teriakan dan gemuruh api, Lamina berdiri terpaku, napasnya memburu. Kata-kata Dirian sebelumnya menghantam sesuatu di benaknya, membuka kepingan ingatan lama yang selama ini ia tekan dalam-dalam.Bukan air dan bukan angin, juga bukan sihir biasa.“Bibi,” suara Aire terdengar cemas namun fokus, matanya menelusuri tanah yang menghitam di sekitar mereka. “Api ini tidak bergerak seperti api sihir.”Luna berjongkok, menyentuh tanah dengan ujung jarinya lalu cepat-cepat menariknya kembali. “Iya… panasnya muncul dari bawah, bukan menyebar dari atas. Pasti ada sesuatu di sekitar sini.”Jantung Lamina berdegup keras.Ia menoleh ke arah pondok yang hampir runtuh, lalu ke jalur api yang menjalar tak wajar, seolah memiliki kehendak sendiri. Dan saat itulah ia sadar.“Ini bukan api sihir,” ucap Lamina tiba-tiba, suaranya cukup keras untuk menembus kekacauan. “Ini api iblis.”Selene yang berdiri tak jauh darinya langsung menoleh. Wajahnya pucat, matanya merah oleh asap dan air
Última actualización : 2026-01-18 Leer más