Ia melangkah satu langkah lebih dekat, tidak mengancam, namun cukup untuk menegaskan batas. “Tidak ada posisi yang perlu digantikan. Dan tidak ada kekosongan yang perlu kau isi.”Untuk sesaat, senyum Morvena goyah, bukan hilang, tetapi retak halus, seperti porselen yang dipukul terlalu pelan untuk pecah.“Oh, Dirian,” katanya akhirnya, tertawa kecil. “Kau selalu berpikir semuanya sesederhana itu.”Dirian menatapnya tanpa emosi. “Untuk hal ini, memang sesederhana itu.”Morvena menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Namun di balik ketenangan wajahnya, sesuatu berkilat bukan penerimaan, melainkan perhitungan.“Baiklah,” ucapnya manis. &ldqu
Last Updated : 2026-01-22 Read more