Selene menelan ludah. Tangannya mengepal di atas seprai, kuku-kukunya menekan kulitnya sendiri. Namun wajahnya tetap terangkat, matanya tidak pernah meninggalkan Morvena.“Bukankah kau juga akan mati,” ucap Selene akhirnya, suaranya rendah namun tegas, “jika aku mati?”Langkah Morvena terhenti.Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke kamar itu, ekspresinya berubah hanya sesaat, sangat singkat, namun nyata. Senyumnya meredup sebelum akhirnya kembali terbentuk, kali ini lebih tipis, lebih berhati-hati.Ia berbalik sepenuhnya, menatap Selene dengan pandangan yang menilai.“Apakah kau yakin,” tanya Morvena pelan, “bahwa kau adalah wanita yang dicintai Dirian?”Kata-kata itu jatuh seperti tetesan racun.Selene mengatupkan bibirnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena Morvena, melainkan karena bayangan wajah Dirian tatapannya yang akhir-akhir ini terlalu tenang, sikapnya yang terlalu mengalah.Morvena tersenyum, seolah puas melihat diam Selene.“Waktu sudah pernah berputar,” katanya. “Dan aku
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-23 อ่านเพิ่มเติม