Morvena terdiam, menatap punggung Dirian yang perlahan menjauh dari hadapannya. Langkah pria itu mantap, tanpa ragu, seolah jarak yang tercipta di antara mereka bukan sesuatu yang patut dipikirkan. Untuk sesaat, Morvena tidak bergerak sama sekali, hanya berdiri di sana dengan tatapan kosong.Kemudian pandangannya beralih ke sekeliling. Reruntuhan besar itu kembali menyambutnya dinding-dinding runtuh, batu-batu retak, dan sisa-sisa kejayaan yang kini tinggal kenangan. Dadanya terasa sedikit sesak.Inilah bekas kastil tempat keluarganya pernah tinggal, tempat tawa dan kehidupan megah pernah mengisi setiap sudutnya, sebelum perburuan penyihir menghancurkan segalanya tanpa ampun. Tidak hanya bangunan yang runtuh, tetapi juga masa lalu, keluarga, dan dunia yang pernah ia kenal.Morvena menghela napas panjang, berusaha menekan p
Última atualização : 2026-01-28 Ler mais