Arsenio memeluk pinggang Alexa begitu mereka masuk ke dalam mansion. Pintu belum sempat menutup sepenuhnya, namun tangannya sudah menarik Alexa mendekat, mencium keningnya seolah masih mencoba memastikan semua itu nyata—lamaran, cincin, kehamilan, kebahagiaannya.Alexa terkekeh kecil, wajahnya memerah. “Arsen… kita bahkan belum duduk…”“Aku tidak mau jauh dari kamu sedetik pun,” gumam Arsenio, suaranya rendah dan dalam. “Aku masih merasa seperti bermimpi.”Alexa menyentuh pipinya. “Ini nyata.”Arsenio menatapnya, dan untuk pertama kalinya Alexa melihat tatapan seorang pria yang benar-benar… jatuh cinta tanpa pertahanan apa pun.“Ayo duduk dulu,” bisik Alexa, menarik tangannya pelan.Namun Arsenio justru menautkan jari mereka dan membawanya ke ruang tengah.Ruang tamu yang biasanya sepi kini dipenuhi tumpukan kertas, laptop, bahkan katalog-katalog yang tergeletak di meja.Alexa mengerjap. “Arsen… apa ini?”Arsenio mendesah penuh semangat, seolah memulai rapat perusahaan besar.“Aku ak
Read more