Ruang pertemuan di lantai 15 terasa sesak, meski luas dan penuh cahaya. Dinding kaca memantulkan bayangan Arsenio yang melangkah masuk—tenang, tapi bukan tenang yang biasa. Tenang itu seperti permukaan danau beku… menyembunyikan badai besar di bawahnya.Mireya sudah duduk, kaki disilangkan, bibirnya melengkung licik.“Tuan Arsenio.” Ia berdiri, seolah menyambut seorang kekasih. Arsenio hanya mengangguk singkat. Ia menarik kursi dan duduk di hadapannya. Tatapannya kosong, datar, dan begitu sulit dibaca—bahkan untuk seseorang seperti Mireya.“Kelvin bilang Anda ingin membatalkan kontrak.” Mireya menyandarkan dagu ke tangan. “Sungguh… mengecewakan.”Arsenio menghela napas seakan pasrah. “Aku… mempertimbangkannya lagi.”Dan untuk pertama kalinya, sorot mata Mireya memudar. Bingung. Kaget. Lalu senang—sangat senang.“Benarkah?” bibirnya melengkung cantik.“Ya, tentu saja. Tadi aku hanya lelah,” Arsenio memijit pelipisnya, memainkan peran itu dengan lihai. “Terlalu banyak hal terjadi.”“Ap
Mehr lesen