Sosok itu muncul dari gelap perlahan, wajahnya separuh tertutup bayangan. Alexa menahan napas—jantungnya memukul tulang rusuk sampai terasa sakit. Sebuah bisikan pelan, sangat pelan, memecah ketegangan.“Alexa…”"A-Ars..."Alexa hampir jatuh saking terkejutnya. Hampir saja ia memekik — namun Arsenio mengangkat satu jari ke bibirnya, tanda diam.Wajahnya tegang. Mata hitamnya tajam, fokus, namun juga dipenuhi ketakutan yang disembunyikan rapat.Alexa menahan air mata. “A—Arsen…” bisiknya begitu lirih, nyaris tak terdengar.Arsenio hanya menggeleng pelan.Ia mendekat lebih sedikit, cukup dekat untuk Alexa melihat jaketnya basah oleh hujan, rambutnya meneteskan air, dan tatapan cemas yang ia tahan keras-keras.Flashback OnArsenio terbangun, merasakan ranjang kosong di sampingnya. Kekhawatiran menghantam dadanya. Ia langsung bangkit, mengambil coat gelap, dan keluar dari kamar.Ia menelusuri lokasi Alexa lewat GPS mobilnya. Setiap menit membuatnya semakin panik. Ia membawa lima anak buah
続きを読む