Keesokan harinya, setelah malam panjang yang membuat dadanya seperti diremas tanpa belas kasihan, Arsenio berdiri di depan cermin kamarnya. Ia merapikan rambutnya, merapikan kerah kemejanya yang baru dipress, lalu mengendurkan dasinya sedikit—tidak terlalu formal, tidak terlalu santai.Penampilan yang tepat untuk seorang pria… yang sedang jatuh cinta.Atau, setidaknya, itulah peran yang harus ia mainkan.Felix berdiri di dekat pintu. “Tuan, apakah Anda yakin ini perlu?”Arsenio menatap bayangannya sendiri. Mata yang lelah. Rahang yang tegang. Tapi di balik semua itu ada bara api—rencana yang mulai terbentuk.“Jika aku ingin mematikan racun,” katanya pelan, “aku harus tahu di mana sumbernya.”Felix tidak menjawab lagi.Malam itu, restoran mewah di lantai tertinggi gedung Primrose dipenuhi cahaya kristal dan musik pelan. Namun kemewahan tak mampu menyamarkan ketegangan yang mengalir begitu Arsenio masuk.Mireya berdiri menyambutnya.Ia mengenakan gaun hitam panjang yang memeluk tubuhnya
Read more