Varo sudah sadar, tapi tubuhnya masih tampak lemas. Wajah kecil itu pucat, matanya terbuka setengah, seolah masih berjuang mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Selang infus masih menempel di punggung tangannya. Airin berdiri di sisi ranjang, mengusap lembut rambut Varo sambil menahan haru.“Sayang… Mama di sini,” bisiknya.Varo menoleh pelan. Senyum tipis muncul di bibirnya.“Mama… Papa mana?”Airin refleks menoleh ke arah pintu. Di balik kaca, Fikar berdiri terdiam. Tatapannya dalam, sulit terbaca. Beberapa jam sebelumnya, saat proses transfusi berlangsung, ia sempat memanggil perawat ke sudut ruangan.“Kalau boleh… tolong ambil sedikit sampel darah anak itu. Saya ingin tes DNA,” ucapnya lirih.Perawat sempat ragu. “Tes DNA, Pak?”“Ya. Tolong jaga kerahasiaannya. Jangan sampai siapapun tahu… termasuk istriku."Kini, Fikar melangkah masuk. Senyumnya hangat, seperti biasa. Ia tidak ingin ada yang curiga.“Papa…” panggil Varo lirih.Fikar menggenggam tangan kecil itu.“Istirahat dulu
Last Updated : 2026-01-04 Read more