Ruangan kerja yang semula dipenuhi hawa panas akibat luapan amarah Bima tadi, kini mendadak terasa dingin dan sunyi mencekam. Dr. Asri Andari Adnyana melangkah pelan mendekati putranya, tatapannya lekat pada wajah Bima yang masih memerah padam, menyisakan jejak kemarahan yang membekas. Ada gurat luka yang sama terpancar di mata ibunya."Bima... dengarkan Mama," suara Asri bergetar tipis, memecah keheningan yang menyiksa. Ia berhenti sejenak, mengambil napas berat seolah sedang menahan tangis yang sudah di ujung mata. "Mama tahu persis apa yang kamu rasakan, Nak. Hati Mama pun hancur, bahkan jauh sebelum kamu menyadarinya. Pedih ini... sudah lama menetap." Matanya menyiratkan kesedihan yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya."Tapi kamu harus mengerti, ini bukan tentang Alvin, apalagi Lidya," Asri melanjutkan, suaranya sedikit meninggi namun tetap sarat duka. "Ini ulah Kevin, anak Rafael. Dendamnya begitu rapi, terencana, dan dalam. Mama sendiri sampai merinding memikirk
Last Updated : 2025-12-29 Read more