Malam semakin larut, ditelan pekatnya kegelapan ibu kota. Bagi Bima, hanya ada kegelapan yang tak menenangkan. Perasaannya campur aduk: amarah, cemas, dan sepercik rasa bersalah yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun. Saat ini, hanya satu nama yang memenuhi otaknya: Lidya. Tujuannya hanya satu. Apartemen Alvin. Dengan desakan amarah yang tidak tertahankan, Bima menghantam pintu apartemen Alvin dengan gedoran yang tidak sabar.Begitu pintu berderit terbuka, Alvin muncul dengan wajah kusut. Kemeja putihnya sudah agak lecek, dasinya entah ke mana. Ada rona lelah bercampur frustrasi di matanya. Ia tak terlihat kaget, malah seperti sudah menduga kedatangan Bima."Di mana Lidya?" tanya Bima tanpa basa-basi. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman tertahan, mengandung ancaman yang nyata.Alvin otomatis mundur selangkah, mengalah, membiarkan Bima masuk. Apartemen itu tampak sepi, dan dari cara Alvin menatap kosong sekeliling, Bima tahu ia tidak menemukan apa-apa."Aku... aku tidak tahu, Bim,"
Last Updated : 2026-01-03 Read more