Di kediaman megah keluarga Wisesa, udara seolah memadat, penuh dengan ketegangan dan strategi tersembunyi. Cahaya dari lampu gantung kristal yang mewah justru terasa dingin, menyorot kemewahan yang tak lagi mampu menyamarkan suasana hati. Kevin Abimanyu Wisesa, dengan kompres es yang membungkus sebagian wajahnya, menyandar lesu di sofa berlapis kulit. Sebelah pipinya masih bengkak dan keunguan, kontras dengan kemeja sutra mahal yang ia kenakan. Tiga sahabat setianya—Vito, Gerald, dan Kaiden—duduk mengelilinginya, wajah mereka tak kalah masam. Kevin terlihat seperti banteng yang terluka, siap mengamuk."Sudah berapa kali kukatakan, Pa? Mereka harus dapat balasan!" Kevin berujar, suaranya tercekat dan terasa serak. Setiap kata membuat luka di wajahnya berdenyut. "Aku dipukuli begini sampai tidak bisa melihat gara-gara dua berandal itu, dan Bapak malah diam saja?"Gabriel Wisesa, sang kepala keluarga, duduk santai di seberangnya, tak sedikit pun menunjukkan empati yang diinginkan putrany
Last Updated : 2026-01-06 Read more