Suasana di ruang perawatan bayi itu tadi hangatnya bukan main. Ada tawa, senyum simpul melihat Nayara yang terlelap pulas, dan kelegaan bercampur haru yang membungkus. Namun, semua itu langsung lenyap, menguap entah ke mana, seketika dokter Asri membuka suara dengan nada khawatir yang justru memicu. Seketika juga, ruangan yang tadi bak surga kecil itu berubah jadi medan perang dingin, sunyi tapi penuh ancaman. Kanaya Mahawira, yang sedari tadi menunjukkan wajah “mama muda bahagia”, kini menarik napas panjang, sorot matanya yang indah itu berubah tajam, menatap Bima Adnyana dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. Otoritasnya sedang ditantang habis-habisan, dan ia tidak suka. Sama sekali tidak.“Dokter Bima Adnyana, coba jangan paksa aku melakukan hal yang nanti akan kita sesali bersama,” ujar Kanaya, nadanya rendah, jauh dari santai, tapi entah kenapa justru terasa penuh ancaman. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya seolah mengandung janji pahit yang bisa sewaktu-waktu
Huling Na-update : 2026-01-17 Magbasa pa