Kau tidak mengerti, Wul," Lidia memulai, suaranya parau seolah setiap kata harus berjuang keluar dari kerongkongan. "Aku sangat menderita. Aku juga tidak senang dengan keadaan ini. Kondisi ini membuatku ingin menghilang."Wulan meremas lembut bahu sahabatnya. Tatapan matanya penuh empati, seperti seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya. "Aku tahu itu, Lid. Sejak hari itu, kau berubah drastis. Kau seperti bayangan dirimu sendiri. Tapi bisakah kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Yang membuatmu kalut hingga nekat kabur entah ke mana?"Lidia menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke kejauhan, seolah memutar kembali kaset rekaman kenangan buruk di kepalanya. "Banyak orang, termasuk mungkin kamu di awal, menyangka aku marah pada Kevin hanya karena aku berlebihan, tidak mengerti apa itu etika profesi kedokteran, atau cemburu buta," katanya pahit, sorot matanya tajam. "Tapi tidak, Wul. Mereka salah besar tentang semua asumsi itu.""Jadi, apa kebenaran di bali
Last Updated : 2025-10-12 Read more