Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai jendela ruang tamu rumah duka yang megah, namun suasana tetap kelam oleh kesedihan yang membekap. Kaiden duduk dengan tegap di kursi utama, wajahnya tersirat kesedihan mendalam. Bibirnya bergerak lirih, merapal doa-doa penuh pengharapan untuk ibunya, Keke, yang telah dikremasi kemarin. Suaranya nyaris tak terdengar, namun ketulusan dan kesungguhan terpancar dari setiap gerakan bibirnya, seolah ingin mengikat kenangan terakhir dengan sang ibu yang telah pergi.Di sudut ruangan, Alina berdiri terpaku, matanya merah dan sembab akibat kurang tidur. Tatapannya tertuju pada Kaiden, namun bukan rasa iba yang menguasai hatinya, melainkan api kecemburuan yang membakar. Setiap kali Kaiden berbicara dengan wanita lain, hatinya terasa sesak, menusuk hingga ke dasar jiwa. Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan amarah sekaligus kesedihan yang bercampur menjadi satu."Apa harusnya aku memberikan kesempatan pada Kaiden?" gumamnya pelan, suaranya
Read more