Alina duduk di tepi ranjang dengan dada yang berdebar tak menentu, matanya menatap Dika yang terduduk, kedua tangan mencengkeram kepalanya seolah berusaha menahan badai pikiran yang mengamuk di benaknya. Suara teriakan Dika pecah, menggema di dalam kamar membuat suasana menjadi mencekam. Namun, di balik kemarahan dan kepanikan itu, terlihat jelas bayang-bayang kesedihan yang menggerogoti wajah pria itu. Dika terlihat begitu kacau, dengan mata yang sembab, bibir yang bergetar menahan kepedihan.Hati Alina bergetar. Meski tubuhnya gemetar, naluri kemanusiaannya lebih kuat dari rasa takut dan amarah. Tanpa pikir panjang, ia merangkul Dika dengan lembut, pelukan yang tak hanya menenangkan tapi juga menawarkan harapan. Tangan Alina dengan perlahan mengelus punggung pria itu, mencoba meredam kegelisahan yang menguasai Dika."Nggak perlu takut, ada aku di sini," bisiknya penuh kehangatan, suaranya seperti oase di tengah kekeringan kesendirian Dika.Sedikit demi sedikit, nafas Dika yang
Ler mais