Risma terbaring lemah di ranjang rumah sakit, alat-alat medis yang sebelumnya menempel di tubuhnya kini satu per satu dilepas. Wajahnya yang pucat berubah halus, seperti tersenyum tipis yang penuh ketenangan. Matanya yang sayu menatap sekeliling, lalu bibirnya bergetar pelan, mengucapkan kata-kata yang hanya bisa dirasakan oleh hati mereka yang mendengarnya 'terima kasih'. Hembusan napas terakhirnya keluar perlahan, menandai kepergiannya yang tenang namun meninggalkan luka dalam di jiwa.Vino langsung merunduk, memeluk tubuh istrinya dengan erat, seolah ingin menahan waktu agar tidak pergi. Tangan Vino gemetar, napasnya tercekat oleh kesedihan yang membuncah. Di sisi lain, Alina menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca, lalu memanggil Kaiden dengan suara berat penuh kepedihan. Kaiden mendekat, meletakkan tangan di pundak Vino, mencoba menguatkan sahabatnya yang tampak remuk."Kematian ini adalah hal yang diinginkan oleh istrimu," ucap Kaiden pelan, suaranya mengandung harapan
Read more