Hari berlalu di mansion Vino. Alina terbangun dengan mata yang masih berat, napasnya terengah saat menyadari betapa rindu dan cemasnya ia pada Kaiden yang terbaring kritis pasca operasi. Suara lembut Vino menarik perhatiannya. "Alina kamu sudah bangun?"Alina memegang kepalanya, "Vino, aku ingin bertemu Kaiden sekarang," suaranya serak, mencerminkan kegelisahan yang menggerogoti hatinya.Vino, yang duduk santai di sofa sambil menggendong bayinya dengan penuh kelembutan, mengangguk pelan. Tatapannya tenang, menenangkan, seolah ingin memberi kekuatan pada Alina. "Aku akan mengantarmu," ucapnya dengan suara lembut namun pasti.Lalu Vino menyerahkan bayinya pada pengasuh yang sudah siap siaga di sana. Alina mencoba bangkit, tubuhnya gemetar karena kelelahan dan kecemasan. Namun, tangan Vino dengan sigap menahan dan membimbingnya duduk kembali di kursi roda. Sentuhan itu terasa hangat, penuh perhatian. "Tenang dulu, Alina. Bayimu alergi susu sapi, aku sudah dapat ibu susu yang coco
Read more