Hari itu, Harris menerobos tujuh lapis pengepungan sendirian. Tubuhnya terus dipenuhi luka, tetapi langkahnya tidak pernah berhenti. Pedangnya bergerak tanpa ampun, membelah tubuh demi tubuh di sepanjang jalur yang dilaluinya.Mayat bertumpuk di mana-mana. Darah mengalir menuruni lereng pegunungan hingga tanah berubah merah gelap. Bau amis memenuhi udara, sementara jeritan dan suara benturan senjata bercampur menjadi satu kekacauan yang mengerikan.Tidak ada seorang pun yang masih berani memandang rendah Harris. Di mata mereka, pria itu sudah bukan manusia lagi. Ia seperti monster yang terus berjalan di tengah lautan darah sambil membawa kematian ke mana pun langkahnya bergerak.Semakin lama pertempuran berlangsung, semakin banyak orang mulai kehilangan keberanian. Tangan mereka gemetar saat memegang senjata, napas menjadi kacau, dan rasa takut perlahan menghancurkan mental mereka.Tidak ada yang ingin maju lebih dulu, tidak ada yang ingin menjadi mayat berikutnya.Hingga pada akhirny
Read more