Leo membeku mendengar ucapan Elisa. Putus? Bahkan dalam mimpi saja, Leo tidak pernah ingin putus dari Elisa. Rahang Leo mengeras dan tangannya mengepal. "Apa? Putus? Kau mau putus dariku? Apa kau sadar apa yang kau katakan, hah?" Nada Leo meninggi. "Aku sadar, Leo! Justru aku sangat sadar, karena itu, mari kita putus saja!" "Tidak bisa, Elisa! Tidak bisa!" "Mengapa tidak bisa? Tinggal putus dan kita tidak ada hubungan lagi, apa sulitnya?" Leo menatap Elisa tidak percaya. Bahkan wanita itu menyahutinya dengan begitu mudah. "Elisa, bahkan semalam kita masih berciuman dan tidur bersama, lalu sekarang kau minta putus? Apa kau masih demam, hah? Kalau kau masih sakit, kita ke dokter sekarang! Atau kau tidur lagi saja! Aku ada rapat penting, jadi aku akan kembali ke kantor saja! Bik Imah, bawa Elisa ke kamarnya!" titah Leo tanpa jeda sama sekali. Bik Imah tidak berani bergerak dan Elisa sendiri kembali menyahutinya. "Aku tidak sakit, Leo! Aku sangat sehat! Aku akui kemarin aku sakit!
Ler mais