"Ayah!" Daisy dan Bik Imah akhirnya tiba di rumah sakit tengah malam itu dan Daisy pun langsung memeluk Handi bersamanya. "Daisy Sayang!" "Aku tidak bisa tidur, Ayah! Aku benar-benar tidak bisa tidur memikirkan Ayah dan yang lain. Ayah tidak apa kan? Lihatlah baju Ayah robek-robek, wajah Ayah biru-biru, lengan Ayah kenapa ini?" Handi memang ikut menerobos ke dalam gudang tadi, ikut berkelahi dengan banyak anak buah, ikut terpukul, ikut tergores, bahkan sempat terkena percikan-percikan api. Secara fisik, terlihat banyak luka luar, tapi anehnya, Handi sudah lama tidak pernah merasa sebugar ini. "Ayah baik-baik saja, Daisy. Tenang saja." "Bagaimana aku bisa tenang? Melihat Ayah seperti ini, aku sedih sekali." Daisy menangis dan memeluk ayahnya lagi. Gary yang berdiri tidak jauh dari mereka pun ikut merasakan terharunya Daisy. "Kau bagaimana, Gary? Kau baik-baik saja? Lihatlah, kau tidak lebih baik dibanding Pak Handi," seru Bik Imah. Suara Bik Imah akhirnya membuat Daisy dan Han
Ler mais