Mendadak kepala Ethan pening. Dengan satu tangan dia memijit pelipis berulang kali. Tangan kanannya meremat kemudi.Masih terngiang ucapan Cahya, “S-saya bukan wanita yang bisa 'dipakai', Tuan."Hatinya mencelos tatkala mata wanita itu berkaca-kaca dan kemudian mengaliri pipi.“Apakah aku sebegitu jahatnya kepada dia? Sungguh, aku tidak pernah menganggapkan wanita jalang,” ucapnya dalam hati.Bahkan ketika dia memberikan uang cash dan kartu yang dulu Cahya tolak, wanita itu tetap menggeleng. Padahal, Ethan tahu betul kalau Cahya tidak membawa apapun termasuk uang dan ponsel.“Aya, please. Jangan over thingking. Apapun keadaannya, kamu adalah wanitaku. Kamu tidak percaya dengan tanda ini dan ini?” Ethan menunjuk perhiasan yang dipakai Cahya.Kemudian lelaki itu menghela napas panjang. “Aku tidak pernah memberi seperti ini kepada wanita. Termasuk kepada mantan istriku. Hanya kamu wanitaku, Aya.”Wanita itu tersenyum miris. Tertawa kecil seakan mentertawakan dirinya sendiri. “Iya benar.
Last Updated : 2026-01-06 Read more