Apapun yang terjadi, hidup harus tetap berjalan. Cahya menyeka air mata dan mencuci wajahnya berulang kali berusaha menyembunyikan jejak kesedihan.Ayu dan Komang langsung mengampiri Cahya yang baru keluar dari kemar mandi. Cahya duduk di bangku tempat mereka biasanya istirahat. Wanita itu hanya membisu, berusaha menyembunyikan kesedihan.“Sakit, ya, Mbak?” Komang menelengkan kepala, sambil memperhatikan tangan Cahya yang menggenggam erat.“Iya.”“Mbak Cahya pucat sekali. Kalau sakit lebih baik ijin pulang duluan saja,” ucap Ayu dengan menunjukkan wajah kawatir.Cahya mengangguk. Dia memang merasa sakit, dadanya begitu perih mengetahui kenyataan hidupnya yang ternyata hanya kebohongan belaka.Mereka membantu membereskan perlengkapan Cahya. Niatnya mengantar Cahya sampai ke depan, dicegahnya.“Kalau jalan ke depan, aku bisa, kok. Tidak udah diantar.”“Sampai rumah minum obat, terus langsung istirahat,” ucap Ayu sambil menepuk lengan Cahya.Setengah berlari, Cahya menyusuri koridor. Dia
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya