“Boleh, Bu Aya?”Cahya masih belum bisa menjawab. Tidak bukan sekedar kata. Kalau panggilan biasanya masih termasuk panggilan umum. ‘Bu Aya’, itu bukan berarti ada hubungan khusus. Akan tetapi kalau dia dipanggil Mama Aya, bukan kah itu merujuk arti lebih dalam?Padahal dari siang tadi, Cahya berusaha memberi pengertian. Yang menentukan dia menjadi mamanya atau tidak adalah papinya sendiri.Keira menghela napas. Senyuman bibirnya pun mulai menyurut, kemudian dia menunduk. Namun ….“Boleh, Sayang. Panggil apapun yang penting hari ini Keira Sayang berbahagia,” ucap Cahya sambil tersenyum.“Terima kasih, Mama Aya. Nanti Keira bilang ke Papi kalau sekarang Keira sudah punya mama. Mama Aya,” ucapnya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang wanita ayu itu.Terserah urusan belakangan. Yang penting di hari spesial ini Keira tidak sedih lagi.Wajah Keira tidak nampak sedih lagi. Dia mulai mau makan dan bermain bersama Satria. Namun, dia tetap bersikukuh untuk tetap di halaman belakang.“Kita
Terakhir Diperbarui : 2026-01-27 Baca selengkapnya