Ini sudah dua bulan berlalu. Perut Cahya mulai terlihat sedikit, tetapi tidak menghalangi gerakan. Keira dan Satria begitu senang akan memiliki adik kecil. Meskipun masih kecil, mereka sudah mengerti dan tidak manja apalagi menyusahkan Cahya. Bahkan semakin sayang dan perhatian. "Mama minum susunya," ucap Keira sambil menunjuk segelas susu yang Cahya abaikan. Sebenarnya Cahya tidak menyukai susu. Aromanya memantik rasa mual meskipun itu dianjurkan. "Iya, Sayang. Sebentar." "Sekarang saja, Mama Aya. Kata Papi, susu bagus untuk adik bayi. Supaya sehat dan kuat. Kasihan adik kalau kelaparan." "Iya," sahut Satria sambil mengangguk-angguk. Cahya tersenyum. Ini pasti akal-akalan suaminya. Di saat dia tidak di rumah, memerintahkan anaknya untuk mengawasinya. Sambil memijit hidung dia meneguk susu. Tidak enak, tetapi harus dihabiskan. "Mama pintar! Sekarang kita main di luar yuk, Dik. Kata Papi, Mama harus banyak istirahat." Keira menggandeng Santria, kemudian mening
Last Updated : 2026-01-31 Read more