Bisikan Dastan membuat Moza tak mampu lagi berkata-kata. Namun, desahan lirih yang keluar dari bibir Moza, telah menjadi jawaban yang cukup bagi Dastan.Dengan gerakan lembut, Dastan melepas seluruh pakaiannya kemudian memandu Moza untuk berbalik menghadapnya. Cahaya lampu meja yang temaram menyapu lekuk tubuh mereka, menciptakan bayangan yang menari di dinding.Sekarang, mereka saling berhadapan tanpa penghalang. Hanya napas yang tersengal, kulit yang memerah, serta mata yang saling membakar dalam hasrat yang tak terbendung.Dastan menatap Moza, matanya memindai setiap inci keindahan istrinya,.“Sangat cantik,” gumamnya penuh kekaguman.Tangan pria itu naik membelai lekuk pipi Moza, lantas turun menyusuri leher, bahu, dan berhenti di lekuk pinggangnya. “Semuanya yang ada di dirimu, aku suka.”Pujian itu membuat Moza tertunduk malu. Namun, ia membalas dengan mengusap rahang tegas Dastan, sebagai sinyal bahwa ia telah menyerahkan diri sepenuhnya.Melihat sang istri telah pasrah, Dastan
อ่านเพิ่มเติม