Mendengar pertanyaan yang menusuk langsung ke relung jiwanya, Moza tidak gentar. Ia tidak perlu mencari jawaban terlalu lama, karena jawaban itu sudah terukir jelas di hatinya."Opa, untuk semua pertanyaan Anda, jawaban saya hanya satu. Saya mencintai Dastan, tanpa mengingat lagi masa lalu yang pahit. Tanpa peduli apa pun kekurangannya,” pungkas Moza mantap. “Meski tidak ada anak di antara kami, saya tetap akan memilih Dastan sebagai suami. Saat ini, saya hanya ingin menjalani hidup bersamanya sampai akhir hayat.”Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Tuan Markus mencari celah kebohongan di wajah Moza, tetapi yang ia temukan hanyalah ketulusan seorang wanita yang telah berdamai dengan takdirnya. Perlahan, ketegangan di bahu pria tua itu pun mengendur."Mendengar jawabanmu ini... barulah aku merasa tenang," kata Tuan Markus seraya menghela napas panjang. "Aku percaya padamu, Moza. Untuk itu, aku ingin meminta sesuatu.”Moza sedikit mengernyitkan dahi, menunggu ke
Baca selengkapnya