Lysander berdiri membelakangi pintu kamar tidurnya yang megah, menatap tanpa berkedip ke luar jendela yang berbingkai marmer. Dunia di bawah, taman istana yang biasanya dipenuhi warna, kini tertutup selimut salju pertama yang sunyi dan putih murni. Setiap serpihan salju yang jatuh bagaikan menambah lapisan dingin baru di atas kuburan hatinya yang telah beku. Dia tidak melihat keindahan di sana; yang ia lihat hanyalah hamparan kekosongan yang luas, cermin dari kehilangan yang ia rasakan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kukunya menancap dalam di telapak tangan. Pikiran penuh dengan kutukan bagi dirinya sendiri: Seandainya aku lebih kuat. Seandainya aku lebih waspada. Seandainya aku tidak jatuh pingsan. Felicity... Tok. Tok. Tok. Suara ketukan yang berwibawa dan terukur memotong lamunannya yang gelap. Sebelum dia bisa menyahut, pintu kamarnya terbuka perlahan. Di ambang pintu berdiri Raja Edmund, ayahnya. Sosoknya tinggi dan tegap, wajahnya yang biasa
Last Updated : 2026-01-08 Read more