Ribuan tahun Alexander menanti. Dua belas kehidupan ia gagal. Kini, di kehidupan ketigabelas yang terakhir, ia tidak akan membiarkan kesalahan yang sama terulang.Kali ini, ia bermain lebih awal. Jauh sebelum Felicity lahir, ia telah menyiapkan panggung. Dan untuk pertama kalinya dalam keabadiannya, ia tidak bekerja sendiri.Tapi ia lupa satu hal: semakin besar campur tangannya, semakin besar pula riak yang ia ciptakan. Dan riak itu kini kembali menghantamnya, dalam bentuk yang paling tidak ia duga.Alexander menyadari pola kegagalannya: ia selalu datang terlambat. Ia selalu menunggu Isabella lahir, tumbuh, jatuh cinta, baru kemudian bertindak. Dan setiap kali, ia kalah oleh cinta yang bisa disentuh, oleh kehangatan yang tidak bisa ia berikan."Tidak lagi," bisiknya pada diri sendiri. "Kali ini, aku akan menulis aturanku sendiri."Melanggar batasan yang Sang Tuan tetapkan, Alexander mulai melakukan intervensi langsung. Ia menjangkau manusia-manusia pilihan, mereka yang memiliki ambisi
Read more