MasukTheron menatapnya, menganalisis. Otaknya yang tajam bekerja cepat, memilah mana yang mungkin benar dan mana yang hanya taktik bertahan hidup. Tapi nama yang disebut Septimus—The Grey Gentleman—adalah sesuatu yang selama ini mengganggu Felicity, memutuskan menyelamatkannya?
"Kau berbohong," desis Theron, tapi tidak ada keyakinan dalam suaranya."Aku bersumpah demi hidupku!" Septimus hampir menjerit. "Aku bekerja untuknya! Aku tahu kebiasaannya! Dia menyembunyikan subjek-subjePemakaman Felicity telah selesai, semua orang kembali masuk untuk meratapi kesedihan masing masing tapi Theron tetap berdiri dihadapan batu nisan. Ia tidak menangis. Matanya kering, terlalu kosong. Ia hanya menatap batu nisan itu, membaca nama yang terukir di sana berulang kali, seolah jika ia membaca cukup lama, nama itu akan berubah, dan Felicity akan bangkit tersenyum padanya.Dalam kedipan mata sebuah amplop tergeletak di samping bunga kering itu.Jantungnya berhenti sejenak. Ia tahu dari siapa surat ini.Dengan tangan gemetar seperti orang demam, ia membukanya. Membacanya. Dan dunia di sekelilingnya runtuh."Theron, kau adalah kejutan terbesar dalam hidupku..."Ia membaca sambil berdiri air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Ia membaca tentang bagaimana Felicity melihat perjuangannya, tentang bagaimana ia menghargai keputusannya untuk melepaskan, tentang cinta yang tidak sempat terbalas."Aku akan selalu mencintaimu, Theron. Dari tempat yang lebih damai nanti."Surat itu jatuh. Th
Dari dalam saku jas abu-abunya, ia mengeluarkan sesuatu yang kecil, terbungkus kain sutra tipis. Dengan tangan gemetar, ia membuka bungkusan itu.Bunga kering.Bukan bunga sembarangan. Ini adalah bunga yang ia petik, pada malam sebelum Isabella meninggal untuk pertama kalinya. bunga yang Isabella letakkan di rambutnya saat mereka berpiknik di bukit. Bunga yang sama yang ia simpan selama berabad-abad, melalui dua belas kehidupan.Setiap kelopaknya telah mengering, warnanya memudar menjadi coklat keemasan, tetapi bentuknya masih utuh—seperti cintanya yang tidak pernah layu meskipun waktu berlalu.Alexander meletakkan bunga kering itu di atas tangan Felicity yang tersilang. Tangannya bergetar hebat saat melakukannya, air mata jatuh membasahi kelopak-kelopak rapuh itu."Ini milikmu," bisiknya. "Sudah seharusnya aku mengembalikannya sejak dulu. Maaf aku menahannya terlalu lama."Ia memandang Felicity untuk terakhir kalinya. Wajah yang sama dengan Isabella. Jiwa yang sama, meskipun telah me
Ia menarik napas panjang. Dadanya sesak, tetapi ia tersenyum—senyum yang getir, hancur, tapi tulus."Jika itu benar-benar keinginanmu... maka akan kukabulkan."Air mata jatuh dari mata Alexander. Untuk pertama kalinya di hadapan orang lain, makhluk abadi itu menangis.Felicity menatapnya, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya. Mungkin keheranan. Mungkin pertanyaan. Mungkin secercah perasaan yang sudah lama padam.Tapi Alexander belum selesai. "Sebelum itu... apa kau ingin mengucapkan perpisahan pada orang-orang? Martha? Bernard? Atau..." ia ragu, "Theron?"Felicity terdiam lama. Matanya berpaling ke jendela, ke bulan yang bersinar dingin. Pikirannya melayang pada Martha yang memeluknya, pada Bernard yang mengajarinya memerah susu, pada Cokelat yang selalu mengekor, pada Liam yang berdiri di bawah pohon dengan mata basah.Juga pada Theron, yang telah mencarinya berminggu-minggu. Pada Bea, yang setia menemaninya sejak kecil. Pada Rowan, yang nakal tapi ia sayangi. Pada Bibi Evangelin
Dua minggu telah berlalu sejak kereta itu membawa Felicity menjauh dari Oakhaven. Kesedihan, penyesalan, serta Frustasi membuat Felicity Ashworth perlahan-lahan mati.Bukan mati secara fisik, tubuhnya masih bernapas, jantungnya masih berdetak. Tapi sesuatu yang lebih berharga dari sekadar nyawa telah padam di dalam dirinya.Jiwanya.Kamarnya di Ashworth Manor menjadi penjaranya. Para pelayan datang dan pergi dengan nampan berisi makanan yang kembali utuh. Lady Evangeline duduk di sampingnya berjam-jam, berbicara, memohon, bahkan menangis tapi Felicity hanya diam. Matanya yang dulu berbinar kini kelabu, kosong, seperti kaca mati yang hanya memantulkan cahaya tanpa menyerapnya.Bea mencoba segala cara. Ia membacakan buku favorit mereka, bercerita tentang kekonyolan Rowan, tidak ada reaksi. Higgins berdiri di pintu setiap hari, menatap majikan mudanya dengan hati hancur. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Rowan berhenti nakal. Bocah itu hanya duduk di pojok kamar Felicity, memeluk lutu
Felicity bangkit berdiri, meskipun lututnya gemetar. "Aku tidak peduli dengan tanggung jawab itu, Bibi! Aku lelah! Aku lelah menjadi harapan semua orang! Aku lelah ketakutan setiap malam! Aku lelah hidup dalam bayang-bayang!"Lady Evangeline menatapnya dengan mata membara. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rasakan? Aku juga kehilangan! Aku juga takut! Tapi lari bukan jawaban!""Ini bukan lari, Bibi! Ini... ini memilih. Memilih hidup yang kuinginkan.""Memilih?" ulang Lady Evangeline, suaranya getir. "Kau masih anak-anak, Felicity. Belum cukup umur. Belum cukup matang untuk membuat keputusan sebesar ini. Dan tugasku sebagai wali adalah memastikan kau tidak membuat kesalahan."Felicity mundur selangkah, merasakan bahaya. "Bibi, jangan..."Lady Evangeline menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri. Selama beberapa detik, ia diam, berusaha bersabar. Tapi ketika Felicity tidak juga bergerak mengikutinya, kesabaran itu habis."Baiklah." Suaranya dingin seperti es. "Jika kau tidak
Di desa terpencil itu, Felicity tidak tahu apa yang akan datang. Ia sedang duduk di teras gubuk Liam, ditemani Cokelat yang setia, memandangi matahari terbenam. Liam duduk di sampingnya, lebih tenang dari biasanya. "Kau bahagia di sini?" tanya Liam tiba-tiba. Felicity menoleh, tersenyum. "Sangat." Liam mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya kesedihan yang dalam, tetapi juga... keikhlasan? Felicity tidak tahu. "Felicity," panggilnya lembut. "Apa pun yang terjadi, ingatlah... kau berhak bahagia. Kau berhak memilih." Felicity mengerutkan kening. "Liam, kau bicara aneh sekali hari ini." Liam tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Hangat, akrab, dan penuh arti. "Hanya berpikir keras, mungkin." Mereka tertawa kecil. Di kejauhan, kabut mulai turun, menutupi desa Oakhaven seperti selimut pelindung. Tapi di balik kabut itu, badai sedang bersiap. Dan Felicity tidak tahu bahwa besok, dunianya akan kembali diguncang. --- Matahari bersinar lembut di ata
Di Perpustakaan Ashworth, cahaya matahari masuk melalui jendela kaca patri, menyinari debu yang berputar-putar dalam udara yang tegang. Theron berdiri di depan Felicity yang duduk pucat, wajahnya mencerminkan kepedihan yang dalam."Flick," kata Theron dengan suara serak, meletakkan setum
Fajar baru saja merekah ketika Theron dikejutkan oleh setumpuk surat di mejanya. Marcus berdiri dengan wajah tegang, menyaksikan tuannya membuka satu per satu surat pemutusan kerjasama yang datang beruntun."Supplier baja Harrison & Sons... memutus kontrak mendadak," gumam Theron, melemp
Senja mulai menyapu langit di atas Kediaman Ashworth ketika seekor burung merpati pos mendarat di jendela perpustakaan. Bea, yang sedang membersihkan rak buku, segera mengambil gulungan kecil yang terikat di kaki burung itu."Flick," panggilnya dengan suara lembut, "laporan dari Tuan The
Sehari setelah kepulangannya, Theron menjalani aktivitas biasanya di perpustakaan Ashworth. Ia sudah duduk di sana sejak awal, dikelilingi oleh peta dan dokumen-dokumen tua. Saat Felicity masuk, ada keheningan sesaat yang terasa berat di antara mereka."Selamat pagi, Theron," sapa Felici







