Di desa terpencil itu, Felicity tidak tahu apa yang akan datang. Ia sedang duduk di teras gubuk Liam, ditemani Cokelat yang setia, memandangi matahari terbenam. Liam duduk di sampingnya, lebih tenang dari biasanya. "Kau bahagia di sini?" tanya Liam tiba-tiba. Felicity menoleh, tersenyum. "Sangat." Liam mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya kesedihan yang dalam, tetapi juga... keikhlasan? Felicity tidak tahu. "Felicity," panggilnya lembut. "Apa pun yang terjadi, ingatlah... kau berhak bahagia. Kau berhak memilih." Felicity mengerutkan kening. "Liam, kau bicara aneh sekali hari ini." Liam tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Hangat, akrab, dan penuh arti. "Hanya berpikir keras, mungkin." Mereka tertawa kecil. Di kejauhan, kabut mulai turun, menutupi desa Oakhaven seperti selimut pelindung. Tapi di balik kabut itu, badai sedang bersiap. Dan Felicity tidak tahu bahwa besok, dunianya akan kembali diguncang. --- Matahari bersinar lembut di ata
더 보기