Alexander berjalan menjauh dari "jendela" itu, langkahnya mantap menuju pusat dimensinya. Di sana, di atas meja marmer abu-abu, terbentang peta realitas yang lebih kompleks—bukan peta geografis, tetapi peta kemungkinan, peta pilihan, peta takdir.Ia menatapnya lama, matanya yang tajam menelusuri setiap cabang garis waktu yang mungkin terjadi. Ada cabang di mana Felicity kembali ke Theron, hidup bahagia tetapi selalu dihantui mimpi buruk sampai ajal menjemputnya dalam beberapa dekade. Ada cabang di mana Felicity memilih Alexander, menjadi abadi, tetapi harus kehilangan semua yang ia cintai di dunia ini. Ada cabang di mana Felicity mati—lagi—dan jiwanya hancur selamanya."Tidak," desisnya, mencoret cabang terakhir itu dengan paksa. "Itu tidak akan terjadi. Tidak kali ini."Ia mengangkat tangannya, dan peta itu bergeser, membentuk pola baru. Di tengah-tengahnya, muncul titik terang yang mewakili satu kemungkinan—satu jalan di mana Felicity memilih keabadian dengan sukarela, tanpa paksaan
Last Updated : 2026-02-28 Read more