“Tidak, Bu,” jawabnya cepat, suaranya sedikit bergetar namun tegas. “Kami hanya beberapa kali bertemu. Tidak ada hubungan apa-apa.”Irsa tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya sulit ditebak.Sementara Saras menggenggam keranjang belanja lebih erat, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu, satu jawaban saja yang salah, bisa mengubah segalanya. Kini sedang diuji.“Jawab dengan jujur, apa yang kamu inginkan dari Dennis?”Pertanyaan itu jatuh begitu saja, dingin, tajam, dan tak terduga.Glek! Saras menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering. Untuk sesaat, ia hanya bisa diam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tercecer. Ia menarik napas pelan.“Saya memang berasal dari keluarga sederhana, Bu, bahkan bisa dibilang sangat sederhana,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan namun berusaha tetap teguh. “Dan saya juga punya keinginan yang sederhana.”Irsa tidak menyela. Tatapannya lurus, menunggu.“Saya hanya ingin hidup tenang dan damai, bersama ibu dan anak saya.”
Read more