**** Mataku masih terbelalak. “Dokter Aldi…” Langkahnya berhenti tepat di hadapanku. Senyumnya kecil, nyaris ragu, seolah tak yakin aku akan menyambutnya seperti dulu. “Hai, Aisyah.” “Om dokter…” suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. “Halo, jagoan,” sapanya lagi, kali ini menunduk pada Arka yang sejak tadi bersembunyi setengah badan di balik kakiku. Aku masih terpaku. Kasak-kusuk di belakangku semakin jelas. Beberapa ibu-ibu yang duduk di bangku tunggu mulai berbisik, tanpa usaha untuk mengecilkan suara. “Siapa dia? Apa mungkin suami Mbak Aisyah?” “Kayaknya bukan deh, Jeng. Yang sering ke sini itu yang ganteng, tinggi besar, kulitnya putih. Anak Mbak Aisyah sering nyebut ayah. Tapi yang ini juga nggak kalah ganteng juga.” Dadaku mengencang. Aku baru saja hendak membuka mulut ketika dokter Aldi berdehem, suaranya tenang tapi cukup tegas. “Maaf ya, Ibu-ibu semuanya. Biar tidak salah paham, saya temannya Aisyah.” Ia tersenyum sopan, lalu sedikit menunduk. S
Read more