Aku membeku di tempat, tanganku mencengkeram sendok sayur terlalu erat sampai jemariku memutih. Bara berdiri beberapa meter dariku, tak melangkah lebih dekat, seolah sadar satu langkah saja bisa membuatku benar-benar kabur. “Aisyah,” ulangnya, lebih pelan. “Aku nggak datang buat ribut.” Aku menelan ludah. Arka sudah bersembunyi di balik kakiku, memeluk betisku erat. Aku bisa merasakan tubuh kecilnya gemetar. “Kamu nggak seharusnya di sini,” kataku akhirnya. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. “Aku tahu,” jawabnya jujur. “Makanya aku cuma berdiri.” Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyakitkan. Orang-orang mulai melintas, tapi dunia seakan menyempit hanya pada kami bertiga. “Aku cuma mau memastikan satu hal,” kata Bara. “Kalian baik-baik saja.” Aku tertawa kecil, getir. “Kalau kami baik-baik saja, aku nggak akan pindah-pindah, Bara.” Ia mengangguk pelan. “Aku tahu aku telat.” “Bukan telat,” potongku. “Kamu salah jalan.” Sorot matanya meredup, ta
Read more