**** Perdebatan itu tidak berakhir dengan kemenangan siapa pun. Bara berdiri lebih dulu, kursinya bergeser kasar hingga menimbulkan suara nyaring yang menyayat telinga. Rahangnya mengeras, napasnya berat, seolah setiap kata yang barusan terucap masih bergema di kepalanya. “Aku butuh waktu,” katanya singkat, dingin. Ia melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu ruang kerja tertutup dengan bunyi pelan, tapi justru itu yang paling menyakitkan. Tidak ada bantingan. Tidak ada amarah yang dilepaskan. Hanya jarak yang sengaja diciptakan. Aku berdiri terpaku beberapa detik, lalu buru-buru meraih ponsel di atas meja. Tanganku sedikit gemetar. Dadaku terasa sesak, bukan karena marah saja, tapi karena takut takut kehilangan kendali atas semuanya. Aku menekan nama yang sudah lama tidak ingin kuhubungi. Riyan. Nada sambung terdengar satu kali, dua kali, lalu suara itu muncul, tenang seperti biasa. “Halo… kamu di mana?” “Iya, halo. Aku biasa lagi di rumah. Kenapa?” jawabnya
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-07 อ่านเพิ่มเติม