**** Pagi itu datang tanpa drama, tanpa tanda-tanda apa pun yang istimewa. Tapi justru di hari-hari seperti itulah hidup sering menguji ketenangan yang baru tumbuh. Arka duduk di lantai, menyusun balok-balok warna sambil bersenandung kecil. “Ibu, ini rumah ayah,” katanya sambil menunjuk bangunan kecil dari balok biru dan merah. Aku tersenyum. “Terus yang ini?” “Itu rumah ibu. Yang ini… rumah Arka,” katanya bangga. Aku tertawa kecil. “Kenapa rumahnya beda-beda?” “Soalnya ayah sama ibu belum satu rumah,” jawabnya polos. Jawaban itu membuat dadaku menghangat sekaligus nyeri. “Ibu, salah ya?” Aku menggeleng. “Enggak, Nak. Kadang hidup memang begitu.” Tak lama kemudian, pintu diketuk pelan. Bara. Seperti beberapa hari terakhir, ia datang tanpa ribut, tanpa banyak gaya. Kemeja kotak-kotak, celana jeans, wajah yang mulai terlihat lebih tenang. “Pagi,” katanya. “Pagi,” balasku. Arka langsung berdiri. “Ayah datang!” “Iya,” Bara tersenyum. “Ayah mau jemput Arka
Read more