**** Arka jatuh sakit di hari yang tak istimewa. Tidak hujan, tidak badai, tidak ada pertanda apa pun. Pagi itu ia hanya lebih diam, tubuhnya hangat, dan matanya kehilangan cahaya ceria yang biasanya tak pernah padam. “Ibu… dingin,” gumamnya pelan. Aku menyentuh dahinya, dan dadaku langsung mengencang. Panas. Aku tidak panik. Setidaknya, aku memaksa diriku terlihat tidak panik. Aku memandikannya dengan air hangat, memberinya obat penurun panas, lalu memeluknya di ranjang. Arka menggigil kecil, tangannya mencengkeram bajuku erat, seperti takut terlepas. “Arka sakit, Bu?” tanyanya dengan suara serak. “Iya, sedikit,” jawabku lembut. “Tapi Ibu di sini.” Ia mengangguk lemah. “Kalau sakit… Ayah biasanya datang.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa niat melukai. Tapi tetap saja, ia melukai. Aku tersenyum. Senyum yang kupelajari dari bertahun-tahun bertahan. “Sekarang Ibu yang jaga.” Hari itu panjang. Panas Arka naik turun. Aku tidak tidur. Tidak makan. Aku hanya duduk di
Read more