**** Pagi pertama setelah pernikahan terasa… hening. Bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda panjang setelah kalimat yang akhirnya selesai diucapkan dengan benar. Aku terbangun lebih dulu. Cahaya matahari masuk dari sela tirai kamar yang semalam kami rapikan seadanya. Sinta masih tertidur di sampingku, wajahnya setengah tertutup rambut yang terurai. Aku menatapnya beberapa detik. “Istriku,” gumamku pelan, masih mencoba membiasakan diri dengan kata itu. Ia bergerak sedikit, lalu membuka mata perlahan. “Dok… ngapain lihatin orang tidur?” “Aku memastikan ini bukan mimpi.” Ia tersenyum malas. “Kalau mimpi, kamu terlalu detail. Semalam kamu ngorok sedikit.” Aku langsung mengernyit. “Aku nggak pernah ngorok.” “Saya saksi hidup,” jawabnya santai. Aku tertawa kecil, lalu bangkit duduk. “Selamat pagi, Bu.” “Selamat pagi, Pak,” balasnya lembut. Ada sesuatu yang berubah. Bukan rasa. Tapi kedalaman. Seolah-olah kami tidak lagi berdiri di dua sisi, melainkan di satu pijakan yan
Read more