"Jonathan, kamu bisa antar saya ke luar? Saya merasa membosankan di sini," ucap Gea pelan kepada Jonathan."Kamu mau ke mana, Gea?""Saya mau ke taman rumah sakit saja, di sini begitu sesak.""Ayo kita ke sana.""Makasih."Sesampainya di taman rumah sakit yang sejuk dengan deretan pohon rindang, Gea justru hanya terdiam. Pandangannya kosong menerawang ke depan, terjebak dalam lamunannya sendiri.Melihat keheningan itu, Jonathan menggeser kursi roda Gea sedikit mendekat, lalu berjongkok di sampingnya."Maafin saya atas semua penderitaan ini," buka Jonathan, memecah kesunyian dengan suara sarat penyesalan.Gea menoleh perlahan, menatap mata pria di hadapannya yang tampak begitu lelah. "Ini bukan salah Anda, ini sudah menjadi takdir saya. Lagipula, saya sudah sering merasakan hal yang menyakitkan."Deg!Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Gea, namun sukses membuat dada Jonathan terasa sesak dan nyeri luar biasa. Rasa bersalah kembali mencengkeram hatinya.Namun, di ten
Read more