Sementara itu, di ruang makan yang masih mencekam, Kakek Wijaya duduk kaku dengan napas yang berat. Ia menatap foto Sari dan putranya dengan tatapan penuh kebencian sekaligus penyesalan. "Bawa pelayan itu pergi dari sini, Rina," perintah Kakek Wijaya dengan suara dingin yang mutlak. "Aku tidak butuh bukti apa pun lagi. Wajahnya adalah cermin dari Sari. Aku tidak akan membiarkan darah haram itu mencemari garis keturunan Wijaya lebih lama lagi. Urus perceraian mereka malam ini juga!" Rina, yang semula gemetar, tiba-tiba berdiri dengan kaku. Kepanikan di matanya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap—insting bertahan hidup. "Benar, Ayah," sahut Rina dengan suara melengking yang dipaksakan. "Kita tidak butuh tes atau apa pun itu. Dia adalah aib! Biarkan Arkan membenciku, asalkan wanita itu hilang dari hidup kita!" Rina mencoba memprovokasi Kakek agar segera bertindak ekstrem, karena ia tahu, semakin lama Luna berada di sini, semakin besar kemungkinan Arkan menggali rahasia ya
Huling Na-update : 2026-01-27 Magbasa pa