Sarah berjengit, menepuk dahinya pelan sembari menghela napas lega. "Oh, astaga! Luna, maafkan aku. Aku lupa kalau tadi sebelum kamu sampai, aku sempat memesan martabak lewat aplikasi. Aku belum sempat makan malam karena lembur."Luna masih terpaku, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih. "Kamu yakin itu kurir makanan, Sar? Jam dua pagi?""Di kota ini, makanan tidak pernah tidur, Luna, kamu tau itu kan ?" Sarah berusaha mencairkan suasana meski jantungnya sendiri masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju pintu, mengintip sedikit dari balik jendela. "Benar, itu jaket ojek online. Tunggu sebentar."Sarah membuka pintu sedikit, melakukan transaksi singkat, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik yang menyebarkan aroma manis mentega. Namun, Luna sama sekali tidak merasa lapar. Baginya, setiap suara di luar sana adalah ancaman yang bisa menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas Arkan."Makanlah sedikit, Luna. Kamu pucat sekali," ujar Sarah sambil membuka kot
Última actualización : 2026-01-03 Leer más