Ibu Rina mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentu tidak, Ayah. Aku hanya... memikirkan protokol keluarga," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski api kemarahan berkobar di matanya. Tuan Besar Wijaya tidak menghiraukan pembelaan menantunya. Beliau beralih kembali pada Luna, lalu menepuk punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Ingat, Luna. Di keluarga ini, kekuatan bukan hanya berasal dari nama belakang, tapi dari apa yang kamu miliki secara sah. Jaga saham itu, dan saham itu akan menjagamu." Setelah Tuan Besar masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menuju bandara, suasana di taman mendadak membeku. Ibu Rina melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Luna hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan merasa menang, Luna," desis Ibu Rina, suaranya begitu rendah hingga Arkan yang berdiri dua langkah di belakang pun hampir tak mendengarnya. "Saham itu bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi surat kematianmu. Aku akan memastikan Kak
Huling Na-update : 2026-01-08 Magbasa pa