"Bawa fotomu dan kembalilah ke kamar, Luna," ucap Kakek Wijaya akhirnya. Suaranya terdengar berat, seolah ada beban ribuan ton yang sedang ia tahan di pundaknya. Luna segera menyambar kertas kecil itu. Ia mendekapnya di dada dengan protektif, tidak membiarkan wajah di foto itu terlihat oleh siapa pun. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berdiri dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah Arkan. "kamu puas, Rina?" Kakek Wijaya menatap menantunya dengan pandangan menghina. "Drama yang sangat murahan. Kakek berbalik, melangkah menjauh seolah-olah ketertarikannya pada foto itu telah menguap, teredam oleh rasa lelah. Namun, di sudut aula, mata Ibu Rina dan Alissa saling bertaut. Begitu mereka sampai di kamar Rina, pintu langsung dikunci rapat. Ibu Rina menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya memburu seperti orang yang baru saja melarikan diri dari maut. "Tante, ada apa? Kenapa Tante sepucat ini?" bisik Alissa panik. "Bukankah kita berhasil? Arkan sudah meragukan Luna, dan Ka
Huling Na-update : 2026-01-12 Magbasa pa