LOGINLuna, seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah kafe, jatuh ke jurang keputusasaan setelah satu kesalahan fatal membuatnya dipecat dan terancam kehilangan tempat tinggal. Pria yang hidupnya ia hancurkan hari itu adalah Arkan Wijaya—CEO muda, dingin, dan berkuasa. Tak disangka, Arkan justru memanggil Luna untuk sebuah wawancara. Namun bukan pekerjaan yang ia tawarkan, melainkan pernikahan kontrak selama satu tahun dengan syarat kejam: seorang ahli waris. Tanpa pilihan lain, Luna menandatangani kontrak yang mengikat kebebasan dan harga dirinya. Di balik pernikahan palsu, tekanan keluarga, kecemburuan mantan tunangan, dan tuntutan ranjang mulai menguji batas mereka. Saat perasaan tumbuh, Luna dan Arkan harus memilih—mematuhi kontrak, atau melanggarnya demi cinta.
View MoreMatahari mulai meninggi, menyapu kabut di kediaman Sari, namun kegelapan di dalam hati Luna perlahan berganti menjadi api dendam yang dingin. Ia menatap gaun hitam di tangan ibunya. Gaun itu bukan sekadar pakaian; itu adalah zirah yang akan ia gunakan untuk berperang melawan orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya. "Ibu," panggil Luna, suaranya kini terdengar lebih rendah dan mantap. "Ajari aku. Ajari aku bagaimana cara berdiri di hadapan Kakek tanpa terlihat seperti pelayan rendahan. Aku tidak ingin mereka melihat setetes pun air mata besok malam." Sari tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan luka sekaligus kekuatan. "Kamu tidak perlu belajar menjadi seorang Wijaya, Luna. Darah itu sudah ada di nadimu. Kamu hanya perlu berhenti meminta maaf atas keberadaanmu. Mulai detik ini, kamu adalah putri mahkota yang kembali untuk menuntut hakmu. "Dan satu hal lagi," Sari menambahkan sembari memegang dagu Luna, mengangkatnya agar mata mereka sejajar. "Tataplah mereka s
"Maafkan aku, Luna," bisiknya pedih, jemarinya mengusap wajah Luna di layar ponsel yang pecah itu. "Jika aku harus menjadi boneka mereka selamanya agar kamu tetap hidup dan jauh dari murka Kakek, maka biarlah duniaku mati malam ini." Arkan tidak tahu bahwa di balik dinding kamarnya, Rina sedang tertawa kecil sambil mengamati monitor CCTV yang tersembunyi. "Lihat dia, Alissa. Begitu rapuh. Hanya butuh satu kebohongan tentang darah, dan singa itu pun bertekuk lutut menjadi pengecut," ujar Rina sinis sambil menyesap anggurnya. "Kasian sekali," sahut Alissa sambil menyunggingkan senyum licik, matanya tak lepas dari sosok Arkan di layar monitor yang tampak seperti raga tanpa jiwa. "Dia benar-benar percaya kalau wanita yang dicintainya adalah adiknya sendiri. Tante, ide tentang 'inses' ini benar-benar jenius. Itu adalah satu-satunya cara untuk membunuh perasaan Arkan secara permanen." Rina mengangguk puas, menyesap anggurnya perlahan. "Arkan memiliki moral yang terlalu tinggi. Dia mun
Pagi itu, suasana di kediaman Sari terasa mencekam. Seorang dokter pribadi baru saja keluar dari kamar Luna dengan raut wajah yang sulit dibaca. Sari segera menyongsongnya di depan pintu. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Sari, suaranya nyaris berbisik. Dokter itu menghela napas panjang. "Nyonya, putri Anda mengalami stres berat dan dehidrasi. Namun, mual yang dirasakannya bukan sekadar masuk angin. Hasil tes menunjukkan Luna positif hamil. Usianya sekitar enam minggu." Dunia seolah berhenti berputar bagi Sari. Di satu sisi, ada kebahagiaan luar biasa, namun di sisi lain, ia tahu kabar ini akan menghancurkan mental Luna yang saat ini percaya bahwa bayi itu adalah hasil hubungan sedarah. Tiba-tiba, suara benda jatuh terdengar dari dalam kamar. Sari dan dokter segera masuk. Luna berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ngeri. Ia rupanya mendengar percakapan itu. "Hamil...?" suara Luna bergetar hebat. Ia menatap perutnya dengan tatapan jij
Wanita itu perlahan menurunkan payungnya, membiarkan cahaya lampu jalan yang remang menyapu wajahnya. Luna tertegun, napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Meski gurat usia dan penderitaan telah mengubah garis wajah itu, mata yang menatapnya adalah mata yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. "I-ibu...?" bisik Luna dengan suara yang hilang timbul di antara deru hujan. "Ibu masih hidup?" Sari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia segera berlutut di aspal yang dingin, merengkuh tubuh Luna yang menggigil hebat ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu nyata, kontras dengan dinginnya pengusiran yang baru saja Luna alami. "Ibu, mereka bilang aku dan Arkan... kami saudara sedarah. Kami kotor, Bu..." Luna meracau di pundak ibunya, air matanya tumpah tak terkendali. Sari membelai rambut Luna yang basah kuyup dengan tangan gemetar. Tatapannya terangkat, menatap tajam ke arah jendela lantai atas mansion Wijaya yang berpendar cahaya. Ada kilat kemarahan yang tertahan di m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.