“Paduka ... Paduka ....”Sari, pelayan pribadi Mustika yang dibawa dari Ibu Kota berlari memanggil-manggil Damarteja. Sayangnya, pertunjukan wayang kulit sudah dimulai. Tak peduli seberapa keras usahanya untuk berteriak, suaranya tetap kalah keras dari bunyi gamelan.“Mas, Endra. Coba cari tahu apa yang terjadi!” pinta Muniratri pada ajudan Damarteja yang berdiri di sampingnya.“Maaf Kanjeng Putri, Paduka sudah memberi perintah agar hamba menjaga hamba Anda dalam jarak tidak lebih dari dua meter, selama beliau pergi,” tolak sang ajudan.”Muniratri berdecap pelan. Matanya terpejam seraya menggelengkan kepala. Sesekali ia mengembuskan napas dari mulutnya dengan bunyi cukup keras.“Kalau begitu suruh mereka membawa pelayan itu kemari,” perintahnya.Endra mengangkat tangan kanannya, lalu memberi kode kepada prajurit yang penjaga yang sedang menghadang Sari. Tak lama kemudian, pelayan itu pun
Read more