공유

189|

작가: Shanum Belle
last update 게시일: 2026-07-08 19:00:10
Damarteja dengan sigap menutup mata istrinya menggunakan telapak tangan. Ia tak ingin wanita itu melihat kondisi Mustika, lalu terbayang-bayang kejadian buruk yang pernah menimpanya.

“Angkat dan bawa langsung ke kediaman!” perintah si lelaki yang tengah berdiri di belakang Muniratri.

“Lakukan secara senyap. Jangan menimbulkan kegaduhan!” sambungnya.

“Baik, Paduka!” Endra mengangguk.

Malam itu, suasana di Puri Kacayagra lebih sepi dari biasanya. Para pelayan berada di luar kediaman, menikmati per
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   203|

    “Begitulah yang terjadi, Ibu Suri.”Raden Apta, keponakan Ibu Suri Tarisujana melaporkan apa yang terjadi di Aula Hutama segera setelah dirinya selesai menghadiri rapat pagi.Wanita itu tak langsung memberikan reaksi apa pun. Ia termenung untuk waktu yang tak sebentar, membuat Raden Apta bosan menunggu tanggapan sang Ibu Suri.“Ini pasti perbuatan Pangeran Hadiwangsa. Dia ingin mengguncang kedudukan kakak sepupu,” terka lelaki itu.Wajah Ibu Suri yang tadinya datar jadi memerah. Air mukanya mengeras. Meski begitu ia tak buru-buru mengutuk aksi Damarteja.Sikap gegabah dalam berbicara hanya akan membawanya pada situasi yang buruk. Terutama jika perkiraannya tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.‘Dari depan, dia terlihat seperti sedang membela diri atas kekalahannya enam belas tahun yang lalu,’ ucap Ibu Suri dalam hati.‘Tapi jika tujuannya hanya itu, dia tidak perlu sampai ....” Ibu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   202|

    “Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   201|

    “YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   200|

    Api berkobar hebat membakar mayat Mustika dan juga Ratnawangi. Kremasi keduanya dilakukan di hari dan lokasi yang sama, di bawah pohon cantigi. Pohon yang dipercaya mampu menenangkan roh.Prosesi tersebut dilakukan secara terbatas. Hanya keluarga Pangeran Adipati Agung, dan Begawan Prayono yang boleh menghadirinya. Orang luar yang diizinkan berada di lokasi hanyalah para ajudan dan dayang pribadi.“Kanjeng Pangeran.” Begawan Prayono memberikan hormat kepada Damarteja.“Terima kasih sudah memberikan upacara yang layak untuk putri kami.” Begawan tersebut menundukkan badan.Sang Pangeran Adipati Agung mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah menerima penghormatan sang Begawan. Ia mengizinkan lelaki itu untuk bangkit.“Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi kewajibanku mengantarkan kepergian putri kalian untuk terakhir kali.” Damarteja menepuk pundak Begawan Prayono sekali.“Semoga dia bisa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   199|

    “Bukankah itu guru Putra Mahkota dan juga istrinya?” Kasmirah menepuk pundak pelayan pribadinya ketika melihat Begawan Prayono keluar dari kamar Mustika.Pelayan itu menyipitkan mata agar pandangannya lebih fokus. “Benar, Raden Ayu. Itu memang mereka.”Kasmirah menyunggingkan senyuman. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin memanggil Begawan Prayono untuk bertukar informasi demi keuntungannya.Namun belum sempat rencana itu terlaksana, Endra sudah lebih dahulu mendapatkan waktu sang Begawan.“Kanjeng Pangeran menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke suatu tempat,” ujarnya.“Baiklah.” Lelaki yang statusnya sebagai guru Putra Mahkota itu mengangguk.Endra membawa Begawan Prayono dan juga istrinya ke barak militer. Di sana dia diarahkan menuju penjara militer yang dijaga secara ketat.“Silakan masuk. Raden. Paduka ada di dalam.” Endra membuka pintu ruang interogasi ya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   198|

    “Kamu? Hamil anakku?”Damarteja berdiri, mengangkat Muniratri yang ada di pangkuannya. Ia meletakkan kembali istrinya di atas kursi pelan-pelan, bak vas bunga yang rapuh.Lelaki itu melangkah ke depan. Ia mengambil cambuk di tangan Ningsih dan memecutnya ke tanah.Suara cambukkan terdengar nyaring di telinga semua orang. Suara itu memenuhi ruangan, membuat hati menjadi lemah dan ketakutan.“Tentu saja saya hamil anak Anda!” ucap Ratnawangi dengan lantang.Dada sang selir mengembang dan mengempis dengan napas yang tersengal-sengal. Wajahnya merah, antara menahan sakit dan juga amarah karena diperlakukan kasar.“Endra.” Sorot mata Damarteja mengarah kepada Ratnawangi. Tatapannya tajam seperti keris Empu Gandring.“Bukannya kamu sudah kusuruh untuk membereskannya? Kenapa bisa kebobolan?” Tatapan tajam Damarteja beralih ke arah sang ajudan.Lelaki itu memiringkan leher ke kanan dan ke

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   17| Sengaja Salah Busana

    Gaya berpakaian Kasmirah dan Muniratri benar-benar bertolak belakang. Bisa dibilang seperti bumi dan langit.Kasmirah tampil sederhana, mengenakan kain biasa tanpa banyak perhiasan. Sementara Muniratri, ia justru mengenakan kain sutra berkualitas tinggi. Emas dan permata menghiasi tubuhnya, dari uju

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   16|

    Saat Muniratri sedang berjuang mati-matian menaiki tangga, Damarteja malah masih tidur nyenyak di kamar Raden Ayu Ratnawangi, selir yang diberikan oleh Ibu Suri.Lelaki itu terlelap di atas risban dengan memegang sebilah pedang di tangannya. Dan ia baru bangun setelah mendengar ketukan pintu.“Masuk

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   15| Lencana Niriti

    Lencana Niriti merupakan benda pusaka sakti. Ia bisa membuat pemiliknya kebal terhadap segala malapetaka. Dan satu-satunya orang yang pernah dianugerahi pusaka ini ialah Senapati Kusumayudha, kakek Muniratri.Masih dalam posisi berlutut, Endra mendongak, menghadap ke arah Damarteja. “Memangnya kenap

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   11| Katakan Siapa Dia!

    Agratampa, wilayah kekuasaan Damarteja, berada di balik Gunung Harja. Tempat itu tak jauh dari perbatasan antara Badra dan Sumbur. Dan rombongan Pangeran Adipati harus berjalan melewati hutan lebat selama tiga hari dua malam untuk sampai ke sana.“Paduka! Tenda sudah siap!” lapor seorang prajurit pa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status