Erina melangkah dengan anggun menuju meja Carl. Setiap langkahnya terukur, penuh percaya diri, seakan ia tahu persis bahwa kehadirannya tidak akan diabaikan. Sekilas, ia melirik ke arah Lyra, senyum tipis yang muncul di bibirnya bukan sekadar sapaan, melainkan sesuatu yang lebih tajam, seperti luka lama yang belum benar-benar sembuh kini terbuka kembali. Akan tetapi, dalam sekejap ekspresinya berubah ketika dirinya kembali menatap Carl, ia tersenyum lembut, rapi, dan nyaris sempurna. Erina duduk di samping Carl dengan gerakan elegan. “Sudah lama saya tidak bertemu dengan Anda, Tuan Carl,” ucapnya hangat. Carl membalas dengan senyum ramah, jelas sekali ia tidak menyadari arus dingin yang diam-diam mengalir di antara dua wanita di hadapannya. Ia kemudian menoleh ke arah Lyra. “Nona Lyra, ini adalah Erina,” ucap Carl memperkenalkan. “Model yang akan menampilkan desain Anda.” Lyra tersenyum tipis, meski keterkejutannya belum sepenuhnya hilang, ia tetap memaksakan dirinya untuk
Mehr lesen