Lonceng pintu toko "Arunika" baru saja berhenti berdenting setelah karyawan terakhir Gadis berpamitan pulang. Suasana yang biasanya menenangkan dengan harum semerbak bunga sedap malam, seketika berubah menjadi pengap dan mencekam. Di sudut ruangan yang mulai remang, Alex masih berdiri di sana, bayangannya memanjang di lantai kayu, tampak seperti sosok asing yang tak lagi Gadis kenali. Saat Gadis hendak berbalik untuk mengunci pintu belakang, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya. Tidak kasar, namun penuh penekanan yang membuat Gadis terpaksa berhenti. "Gadis, tunggu. Kita belum selesai bicara," suara Alex rendah, berat oleh beban rahasia yang ia pikul. Gadis menarik napas panjang, mencoba melepaskan tangannya perlahan. Ia menatap pergelangan tangannya, lalu beralih ke mata Alex. "Mas, apa lagi? Semua orang sudah pulang. Kamu seharusnya pulang ke rumah, menemui Nina. Dia sedang hancur karena tuduhannya padaku tadi sore." Alex tidak melepaskan genggamannya begitu sa
Last Updated : 2026-01-20 Read more